Hj Irena: Mantan Biarawati yang Membongkar Kebohongan Agama Kristen

Hj Irena: Mantan Biarawati yang Membongkar Kebohongan Agama Kristen

AQSOL MADINAH - Jika kita lahir langsung mendengar adzan dan di umur 5 tahun belajar mengaji Al-Qur’an. Maka Hj Irena sejak lahir sudah di baptis dan di umur 5 tahun belajar mengkaji injil. Sejak kecil belliau bermimpi untuk menjadi sorang Biarawati dan cita-cita itupun bisa beliau raih dengan mudah. Namun setelah menjadi biarawati dan mendapatkan kesempatan langka yaitu kuliah lagi untuk mempelajari agamanya lebih dalam, beliau malah mengubah agamanya menjadi Islam. Lantas apa yang membuat mualaf ini pindah agama? Banyak dan memang sangat logis sekali pemikiran beliau. Mari kita simak alasan Hj Irena yang membongkar kebohongan agama kristen.

Suatu hari seorang guru Injil (pastur) berkata, "Kristen adalah agama yang baik, sedangkan Islam adalah yang buruk. Bagaimana tidak? Kita lihat saja di Indonesia, orang miskin di negeri ini kebanyak muslim, yang mengamen dan minta-minta muslim, yang menjadi teroris muslim dan yang kehilangan sendalnya di setiap hari jum’at adalah muslim."

Mendengar hal itu Hj Irena membantah. Berdasarkan pengetahuannya yang luas, beliau berkata; "Memang benar itu semua terjadi di Indonesia, tapi kita tidak bisa mengenaralisir karena umat Kristen di negara lain juga kondisinya mirip dengan umat islam di Indonesia. Tengoklah Filipina dengan umat Kristen sebagai mayoritas dan banyak juga umat Kristen yang melarat. Sementara itu di Mexico banyak pemabuk, pemerkosa dan mereka semua beragama Katolik. Lain lagi dengan di Mesir, para muslim memiliki pembantu rumah tangga beragama Kristen yang berasal dari Filipina. Di Irlandia sering terjadi konfilk internal, antara negara bagian selatan dan utara, antara protestan dan katolik, mereka saling membantai dan membunuh dan mereka juga dijuluki sebagai teroris. Dan ternyata di Italia para gembong obat bius dan perjudian juga beragama katolik. Jadi “tidak terbukti bahwa Islam adalah agama yang buruk!”.

Dengan alasan tersebut Hj irena meminta ijin untuk mempelajari Islam dari sumbernya langsung, yaitu Al-Qur’an. Beliaupun diijinkan dengan catatan, tujuan mempelajari Al-Qur’an adalah untuk mencari kelemahan Islam. Namun, melihat Al-Qur’an membuat beliau bingung, hurufnya aneh-aneh, beliau juga tidak tahu bagaimana cara membacanya, dari kiri atau kanan dulu. Akhirnya beliau mempelajari Al-Quran yang ada terjemahannya. Tanpa disadari, beliau mulai membaca dari belakang, yaitu surat An-Nas. Kemudian saat membaca surat Al-Ikhlas beliau merasa bahwa surat ini benar dan masuk akal.

Keesokan harinya beliau bertanya kepada dosennya, “Pastur.. saya belum paham hakikat Tuhan”. Dosennya berkata dengar heran “Bagaimana mungkin seorang biarawati tidak paham tentang hakikat Tuhan!”, sang dosen kemudian menggambar segitiga dan bertanya “Segitiga ini berapa?”,  “satu”, “ Sisinya ada berapa?”, “tiga”. Nah begitulah Tuhan hanya ada satu, tapi punya tiga kepribadian. Jelas sang dosen.

Tidak puas dengan jawaban dosennya Hj Irena pun berkata. “Pastur, suatu saat nanti masalah di Dunia akan semakin komplek, sehingga Tuhan akan bertambah menjadi empat”. Dengan heran dosennya berkata “Oh tidak bisa”. “Tentu bisa” jawab Hj Irena, kemudian beliau maju menggambar segi empat sama sisi dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan sang dosen sebelumnya. Akhirnya sang dosen berkata “ Itu tidak boleh!”. Tadinya tidak bisa, sekarang menjadi tidak boleh. Merasa tidak puas Hj Irena pun kembali bertanya dan terjadilah percakapan berikut:
“Kenapa Tidak boleh?”
“Ini adalah dogma" (dogama adalah hukum yang dibuat oleh gereja)
“Bagaimana kalau saya tidak paham tentang dogma?”
“Anda paham atau tidak, terima saja! Telan saja dan jangan ditanyakan! Kalau anda ragu hukumnya dosa!.”
Percakapan itu membuat keinginannya untuk terus mengkaji Al-Qur’an semakin besar. Beliaupun kembali membuka Al-Qur’an.

Ketika kuliah beliau bertanya kembali, “Pastur.. yang membuat meja ini siapa?”. Karena heran dengan pertanyaan tersebut sang dosen menyuruhnya untuk menjawab pertanyaannya sendiri.
Hj Irena pun berkata “Yang membuat meja pasti tukang kayu, walaupun ‘meja’ ini dibuat 1 tahun yang lalu sampai 100 tahun kemudian tetap saja ‘meja’. Tidak ada meja yang berubah menjadi tukang kayu. Tukang kayu tidak bisa disamakan dengan meja. Begitu pula dengan Tuhan. Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia dan tidak mungkin seorang manusia bisa menjadi Tuhan”.

Di kesempatan lainnya Hj Irena juga bertanya “Pastur.. siapa yang melantik RW?”. Beliaupun diketawakan oleh mahasiswa lainnya.

Hj Irena pun berkata “Sebenrnya saya tahu jawabannya”. Yang lain mulai diam, beliau melanjutkan kata-katanya “Pastur.. kalau menurut saya yang melantik RW pasti lurah atau kepala desa, eselon diatasnya. Jika sama-sama ketua RW maka pelantikan tersebut tidak sah. Walaupun yang melantik 100 orang RW. Tuhan menciptkan alam semesta dan manusia, maka jika ada manusia yang melantik manusia menjadi Tuhan maka pelantikan itu TIDAK SAH!”. Serentak semuanya terdiam.

Yap, itulah puncak pertanyaan Hj Irena yang mengetahu sisi gelap sejarah gereja. Pada tahun 325 Masehi, sebelum itu Yesus belum menjadi Tuhan. Yesus dilantik Kaisar Romawi Konstantinus dalam rangka konsili (semacam konferensi), acara itu dinamakan ‘Konsili nicea 325’. Parahnya, sejarah ini tidak dipahami oleh 98% umat kristen. Walaupun sejarah ini ada di buku sejarah Kristen mereka. Pemimpin-pemimpin mereka sengaja menyembunyikan informasi tersebut.

Sayangnya umat Islam juga tidak tahu sejarah itu. Padahal sejarah inilah yang membuktikan kebohongan agama Kristen. Jadi agama Kristen sekarang ini bukanlah agama yang dibawa oleh Nabi Isa AS, melainkan sudah banyak terjadi perubahan dan perubahan tersebut sangat mendasar sehingga Kristen yang sekarang lebih layak disebut agama baru. Wallahu’alam.

Read Also:

Related Posts
Disqus Comments