Hj Irena: Natal Bukan Maulid Nabi Isa AS

Hj Irena: Natal Bukan Maulid Nabi Isa

Sebentar lagi lebaran, sudah menyiapkan apa saja nih sobat Aqsol Madinah? Pada mudik gak nih? Seperti biasa, setelah lebaran atau hari raya Idul Fitri pasti di ikuti hari Natal. Umat Kristen mengklaim bahwa hari Natal yang jatuh pada 25 Desember adalah hari kelahiran Yesus. Benarkah demikian? Dan kenapa kita umat Islam tidak boleh mengucapkan selamat Natal kepada mereka? Insyallah cerita Hj Irena tentang Natal dibawah ini bisa menjelaskan dengan gamblang.

Bagi anda yang belum tahu, Hj Irena adalah mantan Biarawati yang membongkar kebohongan agama Kristen, kini beliau aktif berdakwah. Banyak informasi penting mengenai kristenisasi yang beliau sampaikan. Aqsol Madinah menyarankan kepada anda untuk mendengar langsung cerita beliau, bisa dicari di YouTube dengan keyword ‘Hj Irena Handono’.

Kembali ke judul. Menurut Hj Irena, saat Idul Fitri gereja di seluruh Indonesia menginstruksikan kepada anggotanya untuk mengucapkan selamat Idul Fitri. Kenapa? Mereka menggunakan metode yang disebut ‘menangkap ayam’. Metode ini mereka lakukan dengan menggunakan umpan. Jika kita menangkap ayam dengan cara mengejarnya langsung maka kemungkinan besar kita akan gagal, namun jika kita menggunakan umpan maka kita akan menangkap ayam dengan mudah.

Dengan menyebarkan umpan, ayam akan datang untuk makan, ketika makan itulah ayam bisa ditangkap dan setelah ditangkap ayam bisa gorok. Begitu juga muslim, untuk membuat para muslim keluar dari agamanya atau minimal membuat para muslim melenceng dari Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW, mereka menggunakan umpan berupa sembako, pakaian bekas, obat-obatan, beasiswa dan hitanan masal gratis. Mereka juga mengucapkan selamat Idul Fitri agar kita terpancing untuk mengingkari akidah kita dengan mengucapkan selamat Natal.

Sebagaimana kita ketahui bahwa umat islam dilarang untuk mengucapkan selamat Natal, sesuai dengan fatwa MUI yang menyatakan bahwa hukum mengucapkan selamat Natal adalah haram. Kenapa haram? Jika kita mengucapkan selamat Natal maka kita mengucapkan selamat atas lahirnya Tuhan yesus. Hal ini tentu bertentangan dengan akidah kita karena kita tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, tetapi kita mengimani Yesus atau Isa AS sebagai Nabi.

Adalagi pendapa JIL (Jaringan Islam Liberal) yang berkata “Kami tidak memperingati Yesus sebagai Tuhan, tapi kami memperingati lahirnya Nabi Isa AS “. Pendapat ini juga keliru, karena yang lahir pada tanggal 25 Desember bukan Nabi Isa AS tapi Dewa matahari. Oleh karena itu memperingati natal sama dengan memperingati kelahiran Dewa matahari. Mengatakan selamat natal maka sama dengan mengatakan selamat atas lahirnya Dewa matahari. Padahal dalam aqidah Islam kita tidak mengenal dengan yang namanya Dewa, apalagi Dewa matahari. Oleh karena itu mengatakan selamat Natal bisa dikategorikan kedalam perbuatan syirik.

Sejarah Natal

Kenapa natal diperingati pada tanggal 25 Desember? Padahal, Natal baru dirayakan pada abad ke-5 Masehi. Alasan utama perayaan Natal adalah karena waktu itu rakyat Romawi tidak mau masuk agama Katolitk, sedangkan Kaisarnya sudah masuk katolik. Mereka tidak mau masuk Katolik karena takut kehilangan pesta pora pada tangal 25 Desember dalam rangka memperingati hari kelahiran Dewa matahari. Pesta itu sangat  meriah, semua rakyat membawa makanan, minuman, alat musik, menari-nari, bernyanyi dan mabuk sampai teler. Sepanjang malam sampai pagi.

Akhirnya Gereja dan Kaisar mengumumkan pesta 25 Desember akan terus berlangsung karena Yesus lahir pada tanggal tersebut. Orang Romawi menyimpulkan bahwa Yesus adalah Putra dewa matahari. Oleh karena itu pada lambang salib selalu ditengahnya ada lingkaran yang menandakan matahari, begitu pula pada bagian kepala patung terdapat lingkaran yang juga menandakan matahari.

Keanehan selanjutnya ada pada pohon cemara yang merupakan aksesoris wajib hari Natal. Jika Natal memang merayakan kelahiran Yesus, kenapa aksesorisnya adalah pohon cemara yang tidak pernah tumbuh di Palestina sampai sekarang? Padahal Yesus atau Nabi Isa AS lahir di Palestina. Ternyata, penggunaan pohon cemara sebagai aksesoris Natal hanya karena kepentingan politik Romawi untuk menjajah Jerman saat itu. Jadi jelas bahwa Natal bukan Maulid Nabi Isa AS.

Itulah beberapa kutipan dari Hj Irena yang saya dapatkan dari videonya yang berjudul:
Mantan Biarawati Membongkar Kebohongan Agama Kristen Hj Irena Handono.

Untuk informasi yang lebih banyak bisa didapatkan dari buku karya Hj Irena yang berjudul “Perayaan natal 25 Desember antara Dogma dan Toleransi”. Selain buku tersebut Hj Irena juga menulis buku Islam dihujat yang merupakan jawaban dari buku Islamic in vision karya Robert Moori. Buku Islamic in Vision adalah buku yang berisi tentang fitnah kepada agama Islam, terutama Nabi kita yaitu Nabi Muhammad SAW, menurut Hj Irena buku Islamic in vision ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sudah tersebar luas dan menjadi pegangan wajib pagi para pemuka agama Kristin.

Allahu’alam, semoga bermanfaat. Terimakasih.

Read Also:

Related Posts
Disqus Comments