Mendikbud dan Wacana Full Day


AQSOL MADINAH - Belum lama menjabat sebagai Mentri Pendidikan, Muhadjir Efendi mengusulkan wacana untuk mengganti waktu mengajar menjadi sampai sore (sekitar jam 4). Alasannya, dengan menambah jam anak-anak di Sekolah maka guru-guru bisa punya waktu lebih untuk melaksanakan pendidikan karakter. Pendidikan karakter ini menurut beliau sejalan dengan program Nawacita dari Presiden.

Wacana ini pun menuai banyak kritik, salah satunya dari komisi perlindunga anak Indonesia (KPAI). Menurut KPAI, wacana tersebut seharusnya disertai dengan kajian yang matang terlebih dahulu. Aqsol Madinah cukup setuju dengan kriti KPAI, nampaknya pak Mentri terlalu terburu-buru dalam membuat wacana, harus ada kajian mendalam dulu.

Beberapa hari setelah wacana ini ramai dibicarakan guru-guru baik di Sekolah maupun media sosial, pak Muhadjir menyatakan bahwa wacana full day akan batalkan jika masyarakat belum siap. Wajar jika masyarakat tidak siap, terutama pihak sekolah. Jika full day jadi dilaksanakan maka akan banyak sekolah yang keteteran, tidak biasa pulang sore. Belum lagi masalah makan siang, harus ada katering. Pokoknya banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk mengubah sekolah biasa menjadi sekolah full day.

Saya sendiri sebenarnya seorang guru di Sekolah full day. Tentunya Sekolah full day memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya mungkin kita punya waktu banyak untuk mendidik siswa, tapi hal ini juga mengurusa tenaga Guru lebih banyak lagi. Apalagi untuk guru yang biasa pulang siang.

Merubah sebuah sekolah menjadi sekolah full day tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, apalagi di tengah-tengah tahun ajar seperti ini. Rencana-rencana sekolah, rencana guru dan rencana anggaran pasti harus berubah. Hal tentu akan membuat tugas para guru menjadi menumpuk. Alih-alih memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak, malah sibuk mengurusi administrasi.

Pelaksanaan full day tidak hanya berefek pada sekolah. Sebut saja TPA, lembaga bimbel, sekolah agama, tempat kursus dan kegiatan-kegiatan lain harus menyesuaikan jadwal kembali. Atau mungkin bisa jadi lembaga-lembaga tersebut tutup karena siswa terlalu capek ketika di sekolah.
Indonesia memang butuh perbaikan di bidang Pendidikan, tapi perbaikan yang dibutuhkan harus sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan. Tampaknya, pak Mentri belum tahu betul kondisi di Sekolah-sekolah yang ada di Indonesia.

Jadi, apa sebenarnya yang harus kita perbaiki untuk pendidikan di Indonesia? Silahkan tulis pendapat anda di kolom komentar dibawah.

Terimakasih, semoga bermanfaat.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Menjawab Komentar Orang Kristen Tentang Al-Maidah Ayat 51

5 YouTuber Indonesia Paling TOP 2015 dan Penghasilannya

Manfaat Jumlah Subscriber untuk Youtuber