Mengenal Manusia

Aqsol Madinah – Apa itu manusia? Mungkin pertanyaan ini tidak bisa kita jawab langsung. Atau mungkin kita bisa jawab tapi belum yakin dengan jawaban kita. Oleh karena itu kenali lebih dalam lagi tentang manusia, tentang kita.

Dengan mengenali diri lebih dalam, insyallah kita bisa lebih arif dan bijaksana, lebih yakin dengan langkah kita dan lebih semangat menjalani hidup sebagai manusia. Amin.

Proses Pembuatan Manusia

Meja ada karenan ada yang membuatnya, pintu ada karena ada yang membuatnya dan computer atau smartphone yang sedang kita gunakan sekarang juga ada karena ada yang membuatnya. Begitupula manusia, manusia ada karena ada yang membuatnya. Siapa yang membuat manusia? Dia lah Allah yang Maha Kuasa.
manusia terdiri dari ruh dan tanah

Allah menciptakan manusia dari tanah, kemudian ditiupkan ruh sehingga terciptalah manusia pertama, Nabi Adam, bapaknya semua manusia.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk -Al-Hijr (15): 28
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. -Al-Hijr (15): 28
Manusia hanya terbuat dari tanah, oleh karena itu sangat tidak layak bagi kita untuk sombong. Orang Cuma terbuat dari tanah kok sobong!

Kita harus berhati-hati terhadap sifat sombong. Iblis dikeluarkan dari Surga dan dikutuk menjadi penghuni abadi neraka karena sombong. Ketika Iblis disuruh untuk bersujud kepada manusia di Surga dulu iblis berkata “Aku lebih baik darinya, dia diciptaka dari tanah sementara aku diciptakan dari api”.

Perkataaan “aku lebih baik” adalah yang membuat Allah murka. Jadi, hati-hatilah saudaraku! Jangan sampai kita merasa atau mengatakan “aku lebih baik” kepada orang lain,  karena perkataan itulah yang membuat Iblis dikeluarkan dari Surga.

Ingat! Semua manusia di mata Allah sama. Yang membedakan hanya takwanya saja. Sementara itu, kita sebagai manusia tidak bisa mengetahui tingkat ketakwaan seseorang.

Bekal Untuk Manusia

bekal manusia dari Allah
Allah SWT memberikan bekal kepada manusia dalam tiga bentuk, yaitu hati, akal dan jasad.
Hati yang bersifat fluktuatif

Bekal Allah untuk manusia yang pertama adalah hati.

Konsep hati dan akal dalam Islam sedikit berbeda dengan konsep biologi. Pada ilmu biologi kita megenal hati sebagai organ yang berfungsi sebagai tempat menyaring racun dan jantung sebagai organ pemompa darah.

Sedangkan menurut Islam, hati adalah tempat dimana sebuah keinginan bersumber, hati juga bersifat fluktuatif (berubah-ubah) dan hati juga berdetak. Karena hati berdetak, maka hati disebut juga jantung hati. Jadi, dalam islam hati memiliki makna yang sama dengan jantung.

Hati juga merupakan tempat dimana iman berada. Karena sifatnya yang fluktuatif, maka demikian juga iman. Iman terkadang naik dan terkadang turun. Iman bisa naik diakibatkan oleh ketaatan dan bisa turun karena maksiat.

Bisa jadi hari ini kita semangat beribadah. Namun bagaimana dengan kemarin? Besok? Atau mungkin lusa? Tentunya semagat kita berbeda-beda.

Hal ini lah yang membuat Rasulullah SAW sering berdoa:



يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَ عَلَى طَاعَتِكَ
Artinya : Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan di atas ketaatan kepada-Mu*

Kita tentu tahu bahwa Serigala hanya akan menyerang domba yang sendiri. Serigala tidak akan menyerang domba yang berkoloni (bersama domba-domba lain). Setan memiliki sifat serigala. Jika kita sendiri, maka kita akan lebih mudah digoda setan. Oleh karena itu, agar iman kita tidak turun terus maka kita harus banyak menghabiskan waktu bersama orang-orang soleh (berjamaah).

Akal untuk mendapatkan ilmu

Bekal Allah untuk manusia yang kedua adalah akal.

Akal adalah anugerah terbesar Allah untuk manusia. Akal lah yang membedakan kita dengan makhluk ciptaan Allah lainnya. Dengan akal kita bisa memilih yang baik dan benar, meninggalkan yang buruk dan jahat. Dengan akal pula kita bisa mendapatkan ilmu, mengingat dan menjadikan kita termasuk orang yang terhormat (banyak ilmu).

Namun, ada konsekuensi yang harus kita tanggung atas anugerah ini. Setiap yang berakal maka Allah bebankan syariat kepadanya, maksudnya setiap yang berakal wajib mengerjakan ibadah wajib seperti solat, puasa dan lain-lain.

Mari kita gunakan akal kita dengan sebaik mungkin. Karena semakin kita menggunakan akal pikiran kita, maka semakin dekat kita kepada kebenaran.

Jangan sampai kita malas atau bahkan enggan untuk memakai akal kita. Karena itu adalah ciri-ciri orang kafir. Ya, Allah menyebut orang kafis tidak berakal atau tidak memakai otak mereka.
Bagaimana mungkin Allah menyebut mereka (kafir) berakal? Sementara mereka mengangkat Nabi Isa yang diciptakan sebagai manusia menjadi Tuhan. Belum lagi mereka (kafir) yang berkata bahwa Uzair adalah anak Allah. Naudzubillah.

Jasad untuk beramal

Bekal Allah untuk manusia yang ketiga adalah jasad.

Teknologi penciptaan jasad sangat canggih sekali dan sangat rumit. Tentu kita sudah tidak asin dengan istilah ‘sidik jari’, dimana tidak seorang pun di dunia ini memiliki sidik jari yang sama atau identik. Belum lagi para ahli medis yang bisa dengan mudah mendeteksi penyakit hanya dengan melihat telapak tangan passiennya.

Dengan adanya jasad kita bisa bergerak, berjalan, berlari dan bekerja. Lantas bagaimana kemudian jasad harus bergerak? Apa yang seharsnya jasad kerjakan? Jasad sudah semestinya melakukan amal yang sesuai dengan kehendak penciptanya, Allah SWT. Kehendak Allah SWT ini bisa kita ketahui dari Al-Qur’an dan As-Sunnah (hadits).

Kebanyakan manusia diciptakan dengan sempurna. Namun beberapa manusia ada juga yang diciptakan cacat dalam jasadnya. Jika kita perhatikan, tidak sedikit orang cacat yang bisa menelurkan prestasi, seperti menjadi hafid Qur’an.

Ternyata, walaupun Allah menciptakan beberapa manusia dalam jasad yang cacat tapi Allah juga meberikan kelebihan lain pada orang cacat tersebut. Dan setiap orang pasti memiliki kelebihannya masing-masing.



Amanah

amanah
Kita sudah membahas tiga bekal Allah untuk manusia, yaitu hati, akal dan jasad. Lantas untuk apa ketiga bekal itu diberikan kepada kita? Jawabannya adalah untuk mengemban amanah. Adapun amanah yang dimaksud ada dua, pertama adalah untuk beribadah dan kedua untuk menjadi khalifah (pemimpin)

Manusia diciptakan untuk beribadah

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. –Adz-dzariyat (51); 56

Kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Hanya kepada Allah.

Jika medengar kata ibadah maka kita langsung ingat denngan zakat, shalat, puasa dan haji. Pokoknya yang ada di rukun Islam. Lalau bagaimana dengan dzikir? Menikah? Berbuat baik? Bukankah itu juga termasuk ibadah?

Oke, supaya tidak bigung mari kita bahas definisi dari ibadah!

Ibadah adalah sebuah nama yang diberikan kepada setiap yang dicintai Allah dan diridhai Allah, baik itu berupa perkataan, perbuataan, yang nampak (dzahir) dan tidak nampak (batin).

Dari definisi ibadah diatas kita dapat menyimpulkan bahwa ibadah tidak hanya yang ada di rukun Islam saja, tapi segala hal yang kita kerjakan, ucapkan dengan lisan atau hanya dengan hati juga termasuk ibadah. Syaratnya adalah dicintai dan diridhai oleh Allah.

Bagaimana cara mengetahui perkara yang dicintai dan diridhai Allah? Baca Qur’an (terjamah dan tafsirnya) dan Hadits!

Manusia sebagai khalifah di bumi

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." –Al-Baqarah (1); 30
Ibadah itu tentang bagaiamana kita menjaga hubungan vertikal kepada yang diatas (Allah) dan Khalifah itu tentang bagaimana kita menjaga hubungan horizontal antar sesama manusia.

Semua manusia tercipta sebagai pemimpin. Minima, bagi seorang laki-laki adalah menjadi pemimpin bagi keluarganya alias menjadi kepala rumah tangga.

Untuk mejadi seorang pemimpin yang baik kita tidak boleh melupakan evaluasi atau muhasabah. Seteiap sebelum tidur, kita hendaknya menyebutkan kebaikan apa yang telah saya kerjakan hari ini dan keburukan apa yang telah saya kerjakan hari ini. Kemudian setelah itu rencanakan untuk berbuat baik lebih banyak di esok hari dan tidak mengulangi keburukan yang telah terjadi.

Baik ibadah maupun khilafah. Kita akan diminta pertanggung jawaban untuk keduanya di akhirat kelak. Jika ibadah dan khilafah kita baik, maka balasannya akan jauh lebih baik dari Allah (Surga). Namun ika ibadah dan khilafah kita buruk, maka balasnya akan jauh lebih buruk dari Allah (Neraka). Naudzubillah.

Kesimpulan

Allah sudah menciptakan manusia dengan sebaik mungkin. Allah juga sudah memberikan bekal berupa akal, hati dan jasad agar manusia beribadah dan menjadi khalifah di bumi. Jadi ketika kita mendapatkan amanah baru, pasti kita bisa melaksanakannya, karenan Allah sudah memberikan bekal atau modalnya.

Allahu’alam.

Sekian terimakasih, semoga bermanfaat.

*HR. At Tirmidzi No.2066

Download materi Mengenal Manusia dalam bentuk PDF

Temukan juga Aqsol Madinah di:

Read Also:

Related Posts
Disqus Comments